ANALISIS GERAKAN PUSH UP, SIT UP, DAN CHEST PRESS

1. Sit Up.

Cara melakukan:
1. Tidur terlentang dengan lutut di tekuk, bila butuh bantuan mintalah teman anda untuk memegangi kaki anda.
2. Letakkan tangan di belakang kepala.
3. Duduklah dengan posisi tangan tetap di belakang kepala.
4. Kemudian tidur lagi.
5. Ulangi gerakan tersebut sebanyak yang anda butuhkan.
Gerakan yang baik dan baik adalah :
1. Jangan lupa untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu.
2. Lakukan gerakan dengan pelan dan dengan tempo yang tetap.
3. Hentikan bila sudah mengalami kelelahan.
4. Jika perut terasa berkontraksi, Itu adalah tanda sit up yang anda lakukan berhasil.
Segmen otot yang bekerja pada saat melakukan gerakan ini adalah :
• Sternocleidomastoid (anterior fibers).
• Rectus abdominis.
• Rectus femoris.
O : Caput longum: spina iliaca anterior inferior
Caput obliquum: tepi atas depan acetabulum.
I : Patella
Fungsi : Antifleksi, abduksidan eksorotasi paha.

• Sartorius.
O : Spina iliaca anterior inferior.
I : Tuberositas tibiae
Fungsi : Antifleksi, eksorotasi, abduksi paha, fleksi dan endorotasi tungkai bawah.
Segmen tulang yang bekerja adalah :
• Vertabre secara keseluruhan.
• Coxae .
• Femur untuk keseimbangan.
Dihubungkan oleh articulation coxae dengan femur dan sendi-sendi yang menghubungkan vertebre ( tulang belakang )
Kemungkinan gerakan yang dibentuk dari otot dan tulang tersebut adalah fleksio dan ekstensio.

2. Back Up.
Cara melakukan gerakan ini adalah :
1. Tidur tengkurap dengan tangan berada di belakang kepala.
2. angkat tubuh anda ke belakang dengan tangan dan kaki berada di posisi awal.
3. Mintalah bantuan pada teman anda bila membutuhkan.
Gerakan yang baik adalah :
1. Jangan lupa untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu.
2. Lakukan gerakan dengan pelan dan dengan tempo yang tetap.
3. Hentikan bila sudah mengalami kelelahan
4. Bila otot punggung terasa berkontraksi berarti gerakan yang anda lakukan sudah benar.
Segmen otot yang bekerja adalah :
• Trapezius.
I. pars ascendent
O : procesus spinosus VT 3-12
I : bagian medula spinalis scapulae
F : menarik scapula kebawah
II. Parstransversa
O : procesus spinosus VC 7 VT1-3
I : bagian lateral spinae scapulae
f : menarik scapula ke medial
III. Pars descenden
O : protuberantia occipitalis externa, linea nuchae superior, ligamentum nuchae
I : 1/3 bagian lateral clavicula
F : menarik scapula ke atas
• Erector Spinae (deep).
• Thoracollumbar fascia.
• Latissimus dorsi.
O : procesus spinosus VT 7-12 VL1-5, cr iliaca
I : crista tuberculi minoris humeri
F : dorsofleksi, adduksi, endorotasi lengan
Segmen tulang yang bekerja adalah :
• Vertabre secara keseluruhan.
• Coxae .
• Femur untuk keseimbangan.
Dihubungkan oleh articulation coxae dengan femur dan sendi-sendi yang menghubungkan vertebre ( tulang belakang )

3. Push Up.

Cara melakukan gerakan ini adalah :
1. Ambil posisi seperti tiarap tetapi tangan di gunakan sebagai tumpuan. Posisi awal tangan harus lurus.
2. Kemudian turunkan badan perlahan-lahan mendekati permukaan tanah.
3. Badan tidak boleh sampai menyentuh tanah.
4. Kemudian angkat badan ke posisi awal.
5. Lakukan gerakan tersebut berulan-ulang sebanyak yang anda butuhkan.
Gerakan yang baik adalah :
1. Jangan lupa untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu.
2. Lakukan gerakan dengan pelan dan dengan tempo yang tetap.
3. Hentikan bila sudah mengalami kelelahan
4. Bila otot dada dan triceps terasa berkontraksi, berarti gerakan yang anda lakukan sudah benar.
Segmen Otot yang bekerja adalah :
• Erector spinae.
• Pectoralis major.
A. Pars clavicularis
O : 2/3 medial clavicula
F : adduksi, antefleksi, endorotasi
B. Pars sternocostalis
O : sternum+costa 1-6
F : adduksi, endorotasi
C. Pars abdominalis
O : vagina musculi recti abdominis
F : adduksi .
• Deltoideus.
A. Pars clavicularis
O : bagian lateral clavicula
F : antefleksi lengan atas
B. Pars acromialis
O : acromion
F : abduksi lengan atas
C. Pars spinalis
O : spina scapulae
F : dorsofleksi lengan atas
• Triceps.
A. Cap longum
O : tuberositas infraglenoidalis
F : adduksi & dorsofleksi
B. Cap laterale
O : dorsal humerus, proximal sulcus nervi radialis.
C. Cap mediale
O : dorsal humerus, distal sulcus nervi radialis.
Insertio A, B, C ada di olecranon.
Fungsi A, B, C untuk ekstensi lengan bawah.
• Pronator terres.
O : caput humerale: epicondylus medialis humeri.
caput ulnare: procecus coronoideus ulnae.
I : pertengahan ventral radius
F : fleksio, pronasi lengan bawah
• Infraspinatus.
O : fossa infraspinata
I : tuberculum majus
F : exorotasi & adduksi lengan atas
• Rhomboid major.
O : procesus spinosus VT 1-4
I : margo vertebralis scapulae
F : menarik scapula ke medial
Segmen tulang yang bekerja adalah :
• Tulang radius dan ulnae dengan humerus yang dihubungkan dengan :
1. Articulatio humeroradialis ( membentuk gerakan fleksi-ekstensi dan pronasi-supinasi ).
2. Articulatio humeroulnaris ( membentuk gerakan fleksi-ekstensi )
3. Articulatio radioulnaris proximalis ( membentuk gerakan rotasi/pronasi-supinasi)
• Tulang humerus dengan scapula yang dihubungkan oleh art.humeri. yaitu hubungan antara caput humeri dengan cavitas glenoidalis scapulae. Kemungkinan gerakan yang terbentuk adalah :
1. endo-ekso rotasi,
2. abduksi-adduksi,
3. ante-dorso-fleksi.
• Tulang scapula dengan clavicula yang dihubungkan oleh art.acromioclavicularis antara acromion dengan extremitas acromialis claviculae. Kemungkinan gerakan yang terbentuk yaitu :
1. Rotasi scapula dengan angulus inferior ke ventral atau dorsal.
2. Rotasi scapula dengan angulus inferior ke lateral atau medial.
3. Rotasi scapulae dengan margo vertebralis memendek atau menjauhi costae
• Tulang sternum dengan claviculae yang dihubungkan dengan art.sternoclavicularis, antara extremitas sternalis claviculae dan incisura clavicularis sterni . Kemungkinan gerakan yang terbentuk yaitu:
1. Extremitas sternalis claviculae keatas/bawah.
2. Extremitas sternaslis claviculae ke ventral/dorsal.
3. Rotasi claviculae.

4. Chest Press

Cara melakukan :
1. Berbaringlah ditempat yang sudah disediakan.
2. Angkat beban dengan posisi di atas dada.
3. Turunkan beban perlahan, tahan jika sudah berada di bawah dagu. Kira-kira 5cm dari dada.
4. Angkat beban ke posisi awal.
5. Ulangi gerakan ini sebanyak yang anda butuhkan
Gerakan yang baik adalah :
1. Jangan lupa untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu.
2. Lakukan gerakan dengan pelan dan dengan tempo yang tetap.
3. Hentikan bila sudah mengalami kelelahan.
4. Gunakan beban yang ringan terlebih dahulu.
Segmen otot yang bekerja adalah :
• Pectoralis major ( jika menggunakan alat yang sejajar )
A. Pars clavicularis
O : 2/3 medial clavicula
F : adduksi, antefleksi, endorotasi
B. Pars sternocostalis
O : sternum+costa 1-6
F : adduksi, endorotasi
C. Pars abdominalis
O : vagina musculi recti abdominis
F : adduksi .
• Pectoralis minor ( jika menggunakan alat chest press yang miring )
O : costae 3-5
I : procesus coracoideus scapulae
F : menarik procesus coracoideus ke muka bawah
• Triceps.
A. Cap longum
O : tuberositas infraglenoidalis
F : adduksi & dorsofleksi
B. Cap laterale
O : dorsal humerus, proximal sulcus nervi radialis.
C. Cap mediale
O : dorsal humerus, distal sulcus nervi radialis.
Insertio A, B, C ada di olecranon.
Fungsi A, B, C untuk ekstensi lengan bawah.
• Pronator terres.
O : caput humerale: epicondylus medialis humeri.
caput ulnare: procecus coronoideus ulnae.
I : pertengahan ventral radius
F : fleksio, pronasi lengan bawah

• Infraspinatus.
O : fossa infraspinata
I : tuberculum majus
F : exorotasi & adduksi lengan atas
• Rhomboid major.
O : procesus spinosus VT 1-4
I : margo vertebralis scapulae
F : menarik scapula ke medial
• Deltoideus ( posterior head dan bagian anterior ).
A. Pars clavicularis
O : bagian lateral clavicula
F : antefleksi lengan atas
B. Pars acromialis
O : acromion
F : abduksi lengan atas
C. Pars spinalis
O : spina scapulae
F : dorsofleksi lengan atas
Segmen tulang yang bekerja adalah :
• Tulang radius dan ulnae dengan humerus yang dihubungkan dengan :
1. Articulatio humeroradialis ( membentuk gerakan fleksi-ekstensi dan pronasi-supinasi ).
2. Articulatio humeroulnaris ( membentuk gerakan fleksi-ekstensi )
3. Articulatio radioulnaris proximalis ( membentuk gerakan rotasi/pronasi-supinasi)
• Tulang humerus dengan scapula yang dihubungkan oleh art.humeri. yaitu hubungan antara caput humeri dengan cavitas glenoidalis scapulae. Kemungkinan gerakan yang terbentuk adalah :
1. endo-ekso rotasi,
2. abduksi-adduksi,
3. ante-dorso-fleksi.
• Tulang scapula dengan clavicula yang dihubungkan oleh art.acromioclavicularis antara acromion dengan extremitas acromialis claviculae. Kemungkinan gerakan yang terbentuk yaitu :
1. Rotasi scapula dengan angulus inferior ke ventral atau dorsal.
2. Rotasi scapula dengan angulus inferior ke lateral atau medial.
3. Rotasi scapulae dengan margo vertebralis memendek atau menjauhi costae
• Tulang sternum dengan claviculae yang dihubungkan dengan art.sternoclavicularis, antara extremitas sternalis claviculae dan incisura clavicularis sterni . Kemungkinan gerakan yang terbentuk yaitu:
1. Extremitas sternalis claviculae keatas/bawah.
2. sternalis claviculae ke ventral/dorsal.
3. Rotasi claviculae.

5. Shoulder Press.

Cara melakukan gerakan ini yaitu :
1. Angkat beban ( dumbel/barbell ) di atas kepala.
2. Turunkan beban perlahan lewat depan atau belakang kepala.
3. Tahan jika siku sudah membentuk sudut 45 derajat.
4. Angkat beban ke posisi awal.
5. Ulangi gerakan ini sebanyak yang anda butuhkan.
Gerakan yang baik adalah :
1. Jangan lupa untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu.
2. Lakukan gerakan dengan pelan dan dengan tempo yang tetap.
3. Hentikan bila sudah mengalami kelelahan.
4. Gunakan beban yang ringan terlebih dahulu.
Segmen otot yang bekerja adalah :
• Deltoideus.
A. Pars clavicularis
O : bagian lateral clavicula
F : antefleksi lengan atas
B. Pars acromialis
O : acromion
F : abduksi lengan atas
C. Pars spinalis
O : spina scapulae
F : dorsofleksi lengan atas
• Trapezius.
I. pars ascendent
O : procesus spinosus VT 3-12
I : bagian medula spinalis scapulae
F : menarik scapula kebawah
II. Parstransversa
O : procesus spinosus VC 7 VT1-3
I : bagian lateral spinae scapulae
f : menarik scapula ke medial
III. Pars descenden
O : protuberantia occipitalis externa, linea nuchae superior, ligamentum nuchae
I : 1/3 bagian lateral clavicula
F : menarik scapula ke atas
• Terres major.
O : angulus inferior scapulae dan margo axilaris
I : crista tuberculi mayoris di sebelah medial dari insertio m.latisimus dorsi.
• Terres minor.
O : margo axillaris scapulae
I : tuberculum majus
F : exorotasi & adduksi lengan atas.
• Infraspinatus.
O : fossa infraspinata
I : tuberculum majus
F : exorotasi & adduksi lengan atas
• Rhomboid major.
O : procesus spinosus VT 1-4
I : margo vertebre scapulae
F : menarik scapula ke medial.
Segmen tulang yang bekerja adalah :
• Tulang radius dan ulnae dengan humerus yang dihubungkan dengan :
1. Articulatio humeroradialis ( membentuk gerakan fleksi-ekstensi dan pronasi-supinasi ).
2. Articulatio humeroulnaris ( membentuk gerakan fleksi-ekstensi )
3. Articulatio radioulnaris proximalis ( membentuk gerakan rotasi/pronasi-supinasi)
• Tulang humerus dengan scapula yang dihubungkan oleh art.humeri. yaitu hubungan antara caput humeri dengan cavitas glenoidalis scapulae. Kemungkinan gerakan yang terbentuk adalah :
1. endo-ekso rotasi,
2. abduksi-adduksi,
3. ante-dorso-fleksi.
• Tulang scapula dengan clavicula yang dihubungkan oleh art.acromioclavicularis antara acromion dengan extremitas acromialis claviculae. Kemungkinan gerakan yang terbentuk yaitu :
1. Rotasi scapula dengan angulus inferior ke ventral atau dorsal.
2. Rotasi scapula dengan angulus inferior ke lateral atau medial.
3. Rotasi scapulae dengan margo vertebralis memendek atau menjauhi costae
• Tulang sternum dengan claviculae yang dihubungkan dengan art.sternoclavicularis, antara extremitas sternalis claviculae dan incisura clavicularis sterni . Kemungkinan gerakan yang terbentuk yaitu:
1. Extremitas sternalis claviculae keatas/bawah.
2. sternalis claviculae ke ventral/dorsal.
3. Rotasi claviculae.

6. Leg Press.

Cara melakukan:
• Duduk dengan posisi seperti pada gambar.
• Berpeganganlah pada tempat yang sudah disediakan.
• Dorong beban secara pelan dan lepaskan penahan beban.
• Turunkan beban secara pelan ke posisi awal, kemudian dorong lagi sampai lurus.
• Ulangi gerakan tersebut sebanyak yanga anda butuhkan.
Gerakan yang baik adalah :
• Jangan lupa untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu.
• Lakukan gerakan dengan pelan dan dengan tempo yang tetap.
• Hentikan bila sudah mengalami kelelahan.
• Gunakan beban yang ringan terlebih dahulu.
Segmen otot yang bekerja adalah :
1. Quadriceps Femoris
• Rectus femoris.
O : SIAI (caput longum);
tepi atas depan acetabulum (caput obliquum)
I : patella
F : antefleksi, abduksi, exorotasi Paha
• Vastus medialis:
O : labium Mediale linea aspera
• Vastus lateralis
O : labium Lateralis linea aspera
• Vastus intermedius
O : dataran ventral femur
I : patella-ligamen patellae-tuberositas tibiae
F : extensi tungkai bawah.
2. Sartorius
O : Spina iliaca anterior inferior.
I : Tuberositas tibiae
Fungsi : Antifleksi, eksorotasi, abduksi paha, fleksi dan endorotasi tungkai bawah.
3. m. Tensor fasialatae
O : SIAS
I : melalui tractus illiotibialis—condylus lateralis tibiae
F : antefleksi, endorotasi, abduksi paha
4. m. pectenius
O : pecten ossis pubis
I : linea pectinea femoris
F : antefleksi, adduksi, exorotasi paha
5. m. adduktor longgus
O : ramus superior ossis pubis
I : labium mediale linea aspera
F : antefleksi, adduksi, exorotasi Paha
6. M. gracilis
O : ramus inferior ossis pubis
I : tuberositas tibiae
F : antefleksi, adduksi paha; fleksi, endorotasi tungkai bawah.
7. M. Adduktor brevis
O : ramus inferior ossis pubis
I : labium mediale linea aspera
F : adduksi, antefleksi, exorotasi paha
8. M. Adduktor magnus
O : ramus inferior ossis pubis & ossis ischii; tuber ischiadicum
I : labium mediale linea aspera, epicondylus medialis femoris
F : adduksi, antefleksi paha (o: os pubis)
Dorsofleksi paha (o: tuber ischiadium)
Endorotasi paha (o: tuber ischiadium)
Exorotasi paha (o: os pubis)
9. m.tibialis anterior
O :dataran lateral corp tibiae bagian proximal – membran interossea—condylus lateralis tibiae
I : os cuneiforme Iinea basis ossis metatarsalis Iinea
F : fleksi dorsal kaki, supinasi kaki
10. m. extensor digitorum longus
O : dataran ventral fibula, bagian proximal caput fibulae, membr interossea
I : 4 tendo ke phalanx media & distal jari II-V
F : fleksio dorsal, pronasi kaki phalanx jari II-V
11. m. extensor hallucis longus
O : facies anterior fibulae, membrana interossea
I : phalanx distalis jari I
F : fleksio dorsal, supinasi kaki, extensio phalanx jari kaki I
12. m. peroneus longus
O : caput fibulae, facies lateralis fibulae bagian proximal, septum intermusculare anterior & posterior.
I : jalan dorsal maleolus lateral—telapak kaki—ke os cuneiforme I & basis ossis metatarsalis I
F : flexio plantar, pronasi kaki
13. m. peroneus brevis.
O : dataran lateral fibula
I : tuberositas ossis metatarsalis V
F : flexio plantar, pronasi kaki
14. m. gastronemeus: (caput laterale)
O : condylus medialis femoris (capt mediale)
Condylus lateralis femoris (capt laterale)
I : tendo m soleus membentuk tendo calcaneus melekat pada tubercalcanei
F : flexio plantar kaki, supinasi, flexio tungkai bawah, exorotasi tungkai bawah (caput medialis), endorotasi tungkai bawah (caput lateralis)

15. m. Soleus
O :caput fibulae & corpus fibulae bagian proximal, l poplitea tibiae, arcus tendineus antara origo di tibia & fibula
I : dengan tendo calcaneus ke tuber calcanei
F : fleksi plantar kaki
Segmen tulang yang bekerja adalah:
• Coxae
• Femur
• Patela
• Tibiae
• Fibulae
• Tarsalia
Yang dihubungkan oleh :
1. Articulatio coxae. Antara acetabulum dengan labium glenoidale dan caput femoris. Gerakan yang timbul adalah :
• Antifleksi-dorsofleksi paha.(aksis transversal melalui puncak trochanter major)
• Abduksi-adduksi paha. (aksis sagital melalui tepi acetabulum)
• Endo-eksorotasi paha. (aksis longitudinal melalui tengah caput femoris ke pertengahan condoli femoris).
2. Articulatio genus antara condyli femoris dan condyli tibiae dan meniscus lateralis dan medialis (patela). Gerakan yang timbul adalah :
• Fleksi-ekstensi tungkai bawah (aksis transversal melalui condylus lateralis dan medialis femoris).
• Endo-eksorotasi tuungkai bawah (aksis longitudinal melalui condylus medialis tibiae ke melleolus medialis).
3. Art. Talocruralis. Antara facies articularis inferior tibiae dan facies articularis
malleoli dengan trochlea tali. Gerakan yang ditimbulkan adalah fleksi planatar dan fleksi dorsal kaki (aksis transversal melalui kedua malleoli).
4.Art. Talocalcaneonavicularis antara facies articularis pada oss talus calcaneus,dan navicula. Gerakan yang timbul adalah pronasi dan supinasi kaki.
5. Art.tarsometatarsa antara cuneiformis dan os cuboideum dengan basis ossis metatarsalis. Gerakan mengangkat tepi kaki medial/sebaliknya (aksis longitudinal melalui os cuneiforme ke2)

7. Butterfly.

Cara melakukannya adalah:
• Duduk tegap pada alat butterfly dengan membuka tangan membentuk sudut 90 derajat.
• Tarik alat dengan cara menutup kedua tangan ke muka.
• Buka kembali tangan sampai tangan sejajar dengan muka. Kemudian tutup lagi.
• Ulangi gerakan tersebut sebanyak yang anda butuhkan.
Gerakan yang baik adalah :
• Jangan lupa untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu.
• Lakukan gerakan dengan pelan dan dengan tempo yang tetap.
• Hentikan bila sudah mengalami kelelahan.
• Gunakan beban yang ringan terlebih dahulu.
Segmen otot yang bekerja adalah :
• Pectoralis major
A. Pars clavicularis
O : 2/3 medial clavicula
F : adduksi, antefleksi, endorotasi
B. Pars sternocostalis
O : sternum+costa 1-6
F : adduksi, endorotasi
C. Pars abdominalis
O : vagina musculi recti abdominis
F : adduksi .
• Pectoralis minor
O : costae 3-5
I : procesus coracoideus scapulae
F : menarik procesus coracoideus ke muka bawah
• Deltoideus.
A. Pars clavicularis
O : bagian lateral clavicula
F : antefleksi lengan atas
B. Pars acromialis
O : acromion
F : abduksi lengan atas
C. Pars spinalis
O : spina scapulae
F : dorsofleksi lengan atas
• Trapezius.
I. pars ascendent
O : procesus spinosus VT 3-12
I : bagian medula spinalis scapulae
F : menarik scapula kebawah
II. Parstransversa
O : procesus spinosus VC 7 VT1-3
I : bagian lateral spinae scapulae
f : menarik scapula ke medial
III. Pars descenden
O : protuberantia occipitalis externa, linea nuchae superior, ligamentum nuchae
I : 1/3 bagian lateral clavicula
F : menarik scapula ke atas
• Terres major.
O : angulus inferior scapulae dan margo axilaris
I : crista tuberculi mayoris di sebelah medial dari insertio m.latisimus dorsi.
• Terres minor.
O : margo axillaris scapulae
I : tuberculum majus
F : exorotasi & adduksi lengan atas.
• Infraspinatus.
O : fossa infraspinata
I : tuberculum majus
F : exorotasi & adduksi lengan atas
• Rhomboid major.
O : procesus spinosus VT 1-4
I : margo vertebre scapulae
F : menarik scapula ke medial.
Segmen tulang yang bekerja adalah :
• Tulang radius dan ulnae dengan humerus yang dihubungkan dengan:
1. Articulatio humeroradialis ( membentuk gerakan fleksi-ekstensi dan pronasi-supinasi ).
2. Articulatio humeroulnaris ( membentuk gerakan fleksi-ekstensi )
3. Articulatio radioulnaris proximalis ( membentuk gerakan rotasi/pronasi-supinasi)
• Tulang humerus dengan scapula yang dihubungkan oleh art.humeri. yaitu hubungan antara caput humeri dengan cavitas glenoidalis scapulae. Kemungkinan gerakan yang terbentuk adalah :
4. endo-ekso rotasi,
5. abduksi-adduksi,
6. ante-dorso-fleksi.
• Tulang scapula dengan clavicula yang dihubungkan oleh art.acromioclavicularis antara acromion dengan extremitas acromialis claviculae. Kemungkinan gerakan yang terbentuk yaitu :
• Rotasi scapula dengan angulus inferior ke ventral atau dorsal.
• Rotasi scapula dengan angulus inferior ke lateral atau medial.
• Rotasi scapulae dengan margo vertebralis memendek atau menjauhi costae
• Tulang sternum dengan claviculae yang dihubungkan dengan art.sternoclavicularis, antara extremitas sternalis claviculae dan incisura clavicularis sterni . Kemungkinan gerakan yang terbentuk yaitu:
• Extremitas sternalis claviculae keatas/bawah.
• sternalis claviculae ke ventral/dorsal.
• Rotasi claviculae.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Anatomi. Diktat Anatomi Manusia. Laboratorium Universitas Negeri Yogyakarta.
Latihan membentuk dada, bahu dan perut. Diakses dari http://www.getfit.com.au/html/excercises/.html pada 5 Mei 2010 Pukul 23.00.

MACAM CEDERA OLAHRAGA

DISUSUN OLEH
BASKORO PANDU AJI
09604221017

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

1. Sprain (keseleo)
Sprain adalah bentuk cidera berupa penguluran atau kerobekan pada ligament (jaringan yang menghubungkan tulang dengan tulang) atau kapsul sendi, yang memberikan stabilitas sendi. Kerusakan yang parah pada ligament atau kapsul sendi dapat menyebabkan ketidakstabilan pada sendi. Gejalanya dapat berupa nyeri, inflamasi/peradangan, dan pada beberapa kasus, ketidakmampuan menggerakkan tungkai. Sprain terjadi ketika sendi dipaksa melebihi lingkup gerak sendi yang normal, seperti melingkar atau memutar pergelangan kaki.
Sprain atau keseleo adalah jenis cedera yang paling sering dialami oleh para pemain sepak bola. Keseleo yang dialami mulai dari bagian pergelangan kaki, kaki bagian bawah, hingga lutut merupakan bagian-bagian yang paling sering terjadi di sepak bola, terutama bagian pergelangan dan medial collateral ligament (semacam pengikat sendi tulang). Untuk menghindari keseleo, diperlukan pemanasan yang cukup dan stretching yang tepat bisa mencegah terjadinya cedera tersebut (Hardianto Wibowo 1995: 22).
Berikut ini adalah tingkatan cedera sprain:
a. Sprain Tingkat I
Pada cedera ini terdapat sedikit hematoma dalam ligamentum dan hanya beberapa serabut yang putus. Cedera menimbulkan rasa nyeri tekan, pembengkatan dan rasa sakit pada daerah tersebut.Pada cedera ini tidak perlu pertolongan/ pengobatan, cedera pada tingkat ini cukut diberikan istirahat saja karena akan sembuh dengan sendirinya
b. Sprain Tingkat II
Pada cedera ini lebih banyak serabut dari ligamentum yang putus, tetapi lebih separuh serabut ligamentum yang utuh. Cedera menimbulkan rasa sakit, nyeri tekan, pembengkakan, efusi, (cairan yang keluar) dan biasanya tidak dapat menggerakkan persendian tersebut. kita harus memberikan tindakan imobilisasi (suatu tindakan yang diberikan agar bagian yang cedera tidak dapat digerakan) dengan cara balut tekan, spalk maupun gibs. Biasanya istirahat selama 3-6 minggu.
c. Sprain Tingkat III
Pada cedera ini seluruh ligamentum putus, sehinnga kedua ujungya terpisah. Persendian yang bersangkutan merasa sangat sakit, terdapat darah dalam persendian, pembekakan, tidak dapat bergerak seperti biasa, dan terdapat gerakan–gerakan yang abnormal. Cedera tingkat ini harus dibawa ke rumah sakit untuk dioperasi namun harus diberi pertolongan pertama terlebih dahulu.
2. Strain
Strain adalah bentuk cidera berupa penguluran atau kerobekan pada struktur muskulo-tendinous (otot dan tendon). Jenis cedera ini terjadi akibat otot tertarik pada arah yang salah, kontraksi otot yang berlebihan atau ketika terjadi kontraksi, otot belum siap. Strains sering terjadi pada bagian groin muscles (otot pada kunci paha), hamstrings (otot paha bagian bawah), dan otot quadriceps. Cedera tertarik otot betis juga kerap terjadi pada para pemain bola. Fleksibilitas otot yang baik bisa menghindarkan diri dari cedera macam ini. Kuncinya dalah selalu melakukan stretching setelah melakukan pemanasan, terutama pada bagian otot-otot yang rentan tersebut (Hardianto Wibowo 1995: 22).
Strain akut pada struktur muskulo-tendinous terjadi pada persambungan antara otot dan tendon. Strain terjadi ketika otot terulur dan berkontraksi secara mendadak, seperti pada pelari atau pelompat. Tipe cidera ini sering terlihat pada pelari yang mengalami strain pada hamstringnya. Beberapa kali cidera terjadi secara mendadak ketika pelari dalam langkah penuh. Gejala pada strain otot yang akut bisa berupa nyeri, spasme otot, kehilangan kekuatan, dan keterbatasan lingkup gerak sendi. Strain kronis adalah cidera yang terjadi secara berkala oleh karena penggunaan berlebihan atau tekakan berulang-ulang, menghasilkan tendonitis (peradangan pada tendon). Sebagai contoh, pemain tennis bisa mendapatkan tendonitis pada bahunya sebagai hasil tekanan yang terus-menerus dari servis yang berulang-ulang. Berat ringannya sprain dan strain Therapist mengkategorikan sprain dan strain berdasarkan berat ringannya cidera. Derajat I (ringan) berupa beberapa stretching atau kerobekan ringan pada otot atau ligament. Derajat II (sedang) berupa kerobekan parsial tetapi masih menyambung. Derajat III (berat) berupa kerobekan penuh pada otot dan ligament, yang menghasilkan ketidakstabilan sendi.
Strain ringan ditandai dengan kontraksi otot terhambat karena nyeri dan teraba pada bagian otot yang mengaku strain total didiagnosa sebagai otot tidak bisa berkontraksi dan terbentuk benjolan
Cidera strain membuat daerah sekita cidera memar dan bengkak setelah 24 jam. Pada bagian memar terjadi perubahan warna, ada tanda-tanda pendarahan pada otot yang sobek, dan otot mengalami kejadian
Memar dan bengkak disekitar persendian tulang yang terkena cedera, termasuk rubahan warna kulit terjadi kemarthrosis atau pendarahan sendi. Nyeri pada persendian tulang, nyeri bila anggota badan digerakkan fungsi persendian terganggu, dll.
Pencegahannya yaitu pada saat melakukan aktivitas olahraga memakai sepatu yang sesuai, misalnya sepatu yang bisa melindungi pergelangan kaki selama aktivitas. Melakukan pemanasan (streching) sebelum melakukan aktivitas atletik, serta latihan yang tidak berlebihan.
Pengobatan sprain dan strain adalah terapi, yang dilakukan adalah reset atau istirahat, mendinginkan area cidera, copression atau balut bagian yang cidera, elevasi atau meninggikan, membebaskan diri dari beban. Jika nyeri dan bengkak berkurang selama 48 jam setelah cidera, gerakkan persendian tulang ke seluruh arah. Hindari tekanan pada daerah cidera sampai nyeri hilang (biasanya 7-10 hari untuk cidera ringan dan 3-5 minggu untuk cidera berat), gunakan tongkat penopang ketika berjalan bila dibutuhkan.
Menurut Hardianto Wibowo (1995: 16), Cidera derajat I biasanya sembuh dengan cepat dengan pemberian istirahat, es, kompresi dan elevasi (RICE). Terapi latihan dapat membantu mengembalikan kekuatan dan fleksibilitas. Cidera derajat II terapinya sama hanya saja ditambah dengan immobilisasi pada daerah yang cidera. Dan derajat III biasanya dilakukan immobilisasi dan kemungkinan pembedahan untuk mengembalikan fungsinya. Kunci dari penyembuhan adalah evaluasi dini dengan professional medis. Sekali cidera telah ditentukan, rencana terapi dapat dikembangkan. Dengan perawatan yang tepat, kebanyakan sprain dan strain akan sembuh tanpa efek samping.
Kunci dari penyembuhan adalah evaluasi dini dengan professional medis. Sekali cidera telah ditentukan, rencana terapi dapat dikembangkan. Dengan perawatan yang tepat, kebanyakan sprain dan strain akan sembuh tanpa efek samping.
3. Knee Injuries
Adalah cidera yang terjadi karena adanya paksaan dari tendon. Saat mengalami cidera ini akan merasakan nyeri tepat dibawah mangkuk lutut setelah melakukan latihan olahraga. Rasa sakit itu disebabkan oleh gerakan melompat, menerjang maupun melompat dan turun kembali.
Ada beberapa jenis cedera lutut yang umum dialami oleh pemain bola, yaitu cedera pada medial collateral ligament, meniscus, dan anterior cruciate ligament, baik itu sobek pada jaringan, maupun putusnya jaringan tersebut. Pengenaan sepatu yang tepat, kondisi lapangan yang baik, dan latihan kekuatan (strength training) yang tepat bisa mengurangi risiko terjadinya cedera lutut.
4. Compartment Syndrome
Para atlet pada umumnya sering mengalami permasalahan (gangguan rasa nyeri atau sakit) yang terjadi pada kaki bawah (meliputi daerah antara lutut dan pergelangan kaki). Terkadang rasa sakit/nyeri tersebut terjadi karena adanya suatu sindrom kompartemen
Diagnosa terhadap sindrom terhadap sindrom tersebut dilakukan dengan cara perkiraan, karena pola karakteristik (gejala) dan rasa sakit tersebut dan ukuran-ukuran tekanan kompartemennya. Diantara beberapa penyakit yang menyertai sindrom ini dapat diatasi dengan pembedahan (operasi).
5. Shin Splints
Istilah shin aplints kadang-kadang digunakan untuk menggambarkan adanya rasa sakit (cidera pada kaki bagian bawah yang seringkali terjadi terjadi akibat melakukan berbagai aktivitas olahraga, termasuk olahraga lari. Shin splints tersebut dibedakan menjadi dua jenis menurut lokasi rasa sakitnya. Anterior Shin Splints, yaitu rasa sakit yang terjadi pada bagian depan (anterior) dari tulang gares (tibia). Dan yang kedua adalah Posterior Shin Splints, rasa sakit tersebut terasa pada bagian dalam (medial) kaki pada tulang tibia
Shin splints disebabkan oleh adanya robekan sangat kecil pada otot-otot kaki bagian bawah yang berhubungan erat dengan tulang gares. Pertama-tama akan mengalami rasa sakit yang menarik-narik setelah melakukan lari. Apabila keadaan ini dibiarkan dan terjadi terus, maka akan semakin parah, bahkan dapat juga terasa sakit meskipun pada saat kita berjalan kaki. Rasa sakit/perih tersebut biasanya terasa seperti adanya satu atau beberapa benjolan kecil pada sepanjang sisi tulang gares.
Anterior shin splints disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan otot kaki, penyerapan goncangan oleh kaki yang tidak cukup (tidak sesuai), lari dengan posisi kaki jinjit, atau terjadinya pronasi yang berlebihan pada kaki. Kelompok otot posterior yang berada di belakang kaki bagian bawah berperan sekali terutama pada waktu menggerakkan tubuh kita ke arah depan. Pada umumnya otot-otot ini lebih kuat daripada otot-otot pada bagian depan kaki bawah, sehingga hal ini akan menimbulkan adanya ketidakseimbangan otot. Pada saat kita berlari, otot-otot kaki bagian depan (anterior) mengangkat tungkai keatas kearah kaki. Sehingga memberikan ruangan bebas untuk mengayun kedepan. Otot ini juga yang mempersiapkan kaki pada saat akan menginjak tanah. Beberapa usaha menegangkan pada otot kaki yang berlawanan (posterior) akan memberikan ketegangan yang tidak sesuai pada otot-otot anterior, sehingga hal ini dapat mengakibatkan terjadinya shin splints. Penyerapan terhadap goncangan secara tidak sempurna juga dapat mengakibatkan terjadinya anterior shin splints.

6. Achilles Tendon Injuries
Cedera pada tendon achilles ini menempati peringkat pertama yang sering terjadi pada atlet dan paling sulit untuk merawat/menyembuhkannya. Cedera tersebut berkisar dari tendinitis ringan sampai pada pemutusan tendon yang parah. Kunci dari diagnosa tahap-tahap cidera ini adalah pengenalan pada tanda-tanda dan gejala-gejala yang terjadi.
7. Fractures
Cedera seperti ini dialami apabila pemain yang bersangkutan mengalami benturan dengan pemain lain atau sesuatu yang keras. Cedera fractures tidak hanya terjadi pada bagian kaki macam tulang paha, tulang kering, tulang selangkangan, atau tulang telapak kaki, tapi juga kerap terjadi pada lengan, bahu, hingga pergelangan tangan. Untuk menghindari cedera macam ini, penggunaan pelindung sangat dianjurkan untuk meminimalisir patah atau retak tulang. Kasus Wayne Rooney merupakan salah satu contoh cedera fractures yang cukup membuat pusing Alex Fergusson.
Setiap tulang yang mendapatkan tekanan terus-menerus diluar kapasitasnya dapat mengalami keretakan (stress fracture). Keretakan tulang secara teknis adalah pemutusan yang terjadi pada tulang bahkan mengalami pecah akibat adanya tekanan pada tulang yang tanpa disadari oleh atlet, sehingga perlu dilakukan diagnosa. Retak tulang dapat saja terjadi dimana saja pada tubuh kita. Kebanyakan terjadi pada kaki yang disebabkan pada tekanan yang besar sekali pada saat melakukan gerakan melompat maupun lari. Kelemahan pada struktur tulang sering terjadi pada atlet ski, jogging, berbagai atlet lari, dan pendaki gunung maupun para tentara, mereka ini mengalami march fracture.
Macam-macam patah tulang:
• Patah tulang terbuka dimana fragmen (pecahan) tulang melukai kulit diatasnya dan tulang keluar.
• Patah tulang tertutup dimana fragmen (pecahan) tulang tidak menembus permukaan kulit.
Penanganan patah tulang yang dilakukan menurut Hardianto Wibowo (1995:28) sebagai berikut: olahragawan tidak boleh melanjutkan pertandingan, pertolongan pertama dilakukan oleh dokter secepat mungkin dalam waktu kurang dari lima belas menit, karena pada waktu itu olahragawan tidak merasa nyeri bila dilakukan reposisi, kemudian dipasang spalk balut tekan untuk mempertahankan kedudukan yang baru, serta menghentikan perdarahan.
8. Dislocation
Tempurung lutut penting sekali dalam setiap aktivitas olahraga yang banyak membutuhkan gerakan pada kaki bawah. Patella merupakan lapisan piringan sendi tulang yang terletak pada ujung femur. Femur ini memiliki celah pada ujungnya, yang merupakan tempat patella pada saat kaki melakukan gerakan menekuk. Jika patell keluar dari celahnya dan berpindah kesalah satu sisi akan menimbulkan pergerakan letak. Pergeseran yang tidak pada tempatnya ini merupakan subluksi, dimana tempurung lutut tidak menempati posisi sebagaimana mestinya tetapi menyelip sedikit ke salah satu sisi ini akan menimbulkan rasa sakit dan dapat diperkirakan telah terjadi pergeseran tempat patella
Dan yang khas, atlet yang menderita dislokasi (pergeseran) tempurung lutut akan melakukan beberapa gerakan memutar pada saat melangkah kesamping atau gerakan pengayun pemukul baseball. Pada keadaan ini, kaki bagian belakang akan memutar kearah dalam dan tempurung lutut bergeser dari tempatnya (kearah luar). Atlet akan merasakan sakit yang amat sangat pada lututnya, bahkan terkadang lutut tersebut tidak dapat diluruskan. Pada saat dilakukan pemeriksaan, ternyata patella tersebut masih tergeser dari tempatnya.

DAFTAR PUSTAKA
Hardianto Wibowo, dr. 1995. Pencegahan dan Petatalaksanaan Cedera Olahraga. Cetakan 1. EGC.
Peterson, L, Renstrom, P. 1996. Sport Injuries. CIBA.
Santosa, Andy, A. 1994. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia. Jakarta: Akper Sint Carolus
Sobotta. 2000. Atlas Anatomi Manusia. Jakarta: EGC
Sutarmo, Setiaji. V. D. 1990. Buku Kuliah Anatomi Fisiologi. Jakarta: FKUI
Macam-macam cedera. Diakses dari http://sitoha.wordpress.com/2010/01/07/macam-macam-cedera/ pada tanggal 15 mei 2011 pukul 23.34 WIB.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.